Protozoa

by -737 views
Protozoa
Sumber: Don't Memorise

Protozoa (bahasa Yunani; protos; pertama dan zoon: hewan) adalah protista yang menyerupai hewan.

Ciri-Ciri Protozoa

Protozoa merupakan organisme uniseluler yang hidup bebas di perairan dan tempat lembap, sebagai parasit, dan saprob, baik secara soliter atau berkoloni.

Protozoa bereproduksi dengan cara membelah diri (aseksual) dan konjugasi (seksual). Pada gambar di bawah ditunjukkan konjugasi protozoa yang diwakili oleh Paramecium.

Reproduksi Protozoa
Sumber: thebiologynotes.com

Klasifikasi Protozoa

Protozoa dapat diklasifikasikan menurut jenis alat geraknya menjadi 4 filum, yaitu Rhizopoda, Flagellata, Ciliata, dan Sporozoa.

a. Filum Rhizopoda (Sarcodina)

Filum Rhizopoda memiliki alat gerak berupa kaki semu (pseudopodia), yaitu penjuluran sitoplasma yang terbentuk oleh aliran sitoplasma dalam satu arah. Filum ini terbagi menjadi 3 ordo, yaitu Amoeba, Foraminifera, dan Radiolaria.

  • Ordo Amoeba

Amuba bergerak melalui gerak ameboid, yaitu plasmogel (bagian endoplasma yang kental) bergerak dan mencair menjadi plasmosol (bagian endoplasma yang encer). Amuba tidak memiliki cangkang tubuh.

Amuba bereproduksi secara aseksual melalui pembelahan biner. Pernapasan secara difusi di seluruh permukaan tubuh, CO2 dibuang melalui vakuola kontraktil.

Amuba merupkan organisme heterotrof. Makananan ditelan secara fagosit. Amuba hidup bebas di tempat lembap (contohnya Amoeba proteus), sebagai sparob (contohnya Entamoeba coli di usus besar yang membantu pembusukan sisa makanan), serta sebagai parasit (contohnya Entamoeba dysentriae penyebab diare dan Entamoeba ginggivalis penyebab gingivitis/radang gusi).

  • Ordo Foraminifera

Tubuh foraminifera bercangkang dari zat kapur (kalsium karbonat). Peranannya adalah sebagai petunjuk umur lapisan bumi dan sumber minyak bumi di dasar laut yang ditandai dengan adanya tanah globigerina (berupa fosil).

  • Ordo Radiolaria

Tubuh radiolaria bercangkang dari bahan silika. Peranannya adalah sebagai bahan pembentuk alat gosok, peledak, dan minyak bumi yang berasal dari endapan cangkang di dasar laut.

b. Filum Flagellata (Mastigophora)

Filum Flagellata memiliki alat gerak berupa bulu cambuk (Flagela). Flagellata berkembang baik secara aseksual membelah diri. Kebanyakan hidup bebas, sisanya sebagai parasit dan simbion (misalnya falgelata yng hidup di usus rayap).

Filum Flagellata terbagi menjadi fitoflagelata dan zooflagelata. Fitoflagelata bersifat autotrof dan berplastida, sedangkan zooflagelata heteretrof dan tidak berplastida.

  • Fitoflagelatan

Fitoflagelata terbagi menjadi 3 kelas, yaitu Euglenoida, Dinoflagellata, Volvocida.

– Kelas Euglenoida

Contohnya, Euglena viridis yang memiliki kloroplas dan stigma (fotoreseptor penerima rangsang cahaya).

– Kelas Dinoflagellata

Dinoflagellata memiliki 2 flagela, klorofilnya tetutup oleh pigmen karoten dan peridinin. Kebanyakan hidup di laut, contohnya Noctiluca yang mengeluarkan zat fosfor sehingga permukaan laut bercahaya pada malam hari. Secara umum, berperan sebagai produsen (fitoplankton). Populasi yang berlebihan menyebabkan fenomena red tide (pasang merah) yang beracun dan mematikan banyak ikan laut.

– Kelas Volvocida

Contohnya, Volvox globator dan Chlamydomonas. Bentuk selnya bulat, memiliki 2-4 flagela, berwarna hijau atau tidak berwarna, dan hidup secara berkoloni atau soliter.

  • Zooflagelata

Zooflagelata hidup sebagai parasit. Contohnya Trypanosoma gambiense dan T. Rhodesiense (penyebab penyakit tidur negana di Afrika; vektor; lalat tse-tse), T. Cruzi (penyebab penyakit cagas / anemia anak, di Amerika Tengah), T. Evansi (penyebab penyakit sura pada hewan ternak), donovani (penyebab penyakit kalaazar di Mesir dan India), L. Brasiliensis (penyakit kulit di Meksiko), dan L. Tropica (penyakit kulit oriental sore di Asia dan Amerika Selatan).

c. Filum Ciliata (Infusoria)

Siliata memiliki alat gerak berupa silia (bulu getar). Silia berfungsi sebagai alat gerak, alat penerima rangsang, dan untuk mengambil makanan (berupa bakteri, alga, dan protozoa). Beberapa siliata (contohnya Didinium) memiliki trikosis untuk menghentikan mangsa.

Siliata berkembang biak dengan cara membelah diri (aseksual) dan konjugasi (seksual). Kebanyakan siliata hidup diperairan, sisanya sebagai parasit. Contoh siliata antara lain sebagai berikut.

  1. Paramecium caudatum. Berbentuk seperti sandal. Silia terdapat pada seluruh permukaan tubuhnya, termasuk di bagian sitostoma (celah mulut tempat masuknya makanan). Memiliki dua inti, yaitu makronukleus (nukleus vegetatif) dan mikronukleus (nukleus reproduktif).
  2. Balantidium coli. Berbentuk bulat telur dan hidup sebagai parasit di usus babi atau manusia (menyebabkan penyakit diare balantidiosis).
  3. Berbentuk lonceng bertangkai, silia di sekitar mulut, hidup di perairan tawar.
  4. Berbentuk terompet, silia di sekitar mulut, hidup di dasar perairan.

d. Filum Sporozoa

Spermatozoa tidak memiliki alat gerak. Pergerakannya dengan cara mengubah posisi tubuh.

Sporozoa bereproduksi secara aseksual di dalam tubuh inang tetap dan sementara. Reproduksi seksualnya berlangsung di dalam tubuh inang sementara.

Berikut ini contoh spesies yang termasuk dalam filum Sporozoa.

  1. Plasmodium sp. (penyebab penyakit malaria) ditemukan oleh Charles Laveran (1880) pada nyamuk betina Anopheles. Proses pembiakan pada fase aseksual (stadium skizogoni) disebut sporulasi karena menghasilkan spora (merozoit). Pada saat sporulasi tampak gejala penyakit malaria, yaitu demam berkepanjangan dan menggigil karena kerusakan sel darah merah. Berikut ini jenis-jenis Plasmodium sp.
  2. Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale menyebabkan malaria tertiana; masa sporulasi (demam) 2 x 24 jam.
  3. Plasmodium falciparum menyebabkan malaria tropika; masa sporulasi tidak teratur.
  4. Plasmodium malariae menyebabkan malaria kuartana; masa sporulasi 3 x 24 jam.
  5. Toxoplasma gandii (penyebab penyakit toksoplasma) yang ditularkan melalui hewan peliharaan, seperti kucing dan burung. Wanita penderita toksplasma pada awal kehamilannya dapat mengalami keguguran.