Klasifikasi dan Pelayangan Bunyi

by -383 views
Klasifikasi dan Pelayangan Bunyi
Sumber: pahamify.com

Klasifikasi Bunyi

Berdasarkan frekuensinya bunyi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :

a. Nada

b. Desah (noise).

Nada merupakan bunyi yang frekuensinya teratur, sedangkan desah merupakan bunyi yang frekuensinya tidak teratur. Tinggi rendah nada tergantung pada frekuensi bunyi. Semakin tinggi frekuensi, semakin tinggi nadanya. Kuat lemah nada bunyi tergantung dari amplitudonya. Semakin besar amplitudo gelombang bunyi, semakin kuat (keras) nadanya.

Berdasarkan batas pendengaran manusia, bunyi dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu :

a. Infrasonik, yaitu gelombang bunyi yang frekuensinya kurang dari 20 Hz. Infrasonik banyak dihasilkan oleh sumber getar yang cukup besar misalnya gempa.

b. Audiosonik, gelombang bunyi yang frekuensinya antara 20 – 20.000 Hz. Batas frekuensi bunyi ini dapat ditangkap oleh telinga manusia normal.

c. Ultrasonik, gelombang bunyi yang frekuensinya lebih dari 20.000 Hz. Ultrasonik biasanya dihasilkan oleh getaran kristal kuarsa dalam suatu medan listrik. Secara alami pemancar dan penerima ultrasonik dimiliki oleh anjing dan kelelawar, sehingga kedua hewan tersebut dapat mendengar bunyi ultrasonic ini dari 500000 – 100000 Hz.

Ultrasonik dapat dimanfaatkan antara lain dalam kehidupan sehari-haro, pada:

  • kaca mata tuna netra
  • fatometer (alat pengukur kedalaman laut). Kedalaman laut dapat dihitung dengan persamaan:

fatometer

h   = kedalaman laut (m)

v   = cepat rambat bunyi (m/s)

Dt  = selang waktu pengiriman dan penerimaan pulsa ultrasonic (s)

  • pulsa ultrasonik dapat mendeteksi sambungan logam
  • pemeriksann USG (ultrasonografi)
  • Bor ultrasonik digunakan untuk membuat berbagai ukuran lubang gelas dan baja pada industri.
  • gelombang ultrasonik yang dipancarkan oleh kelelawar memungkinkan hewan ini dapat terbang d malam hari tidak mengalami tabrakan.

Pelayangan Bunyi

Bunyi yang terdengar beralun kuat dan lemah, menunjukkan amplitudonya berubah-ubah. Perubahan amplitudo yang menyebabkan perubahan kuat dan lemah bunyi secara periodik disebut pelayangan/layangan bunyi. Terjadi pada dua gelombang bunyi yang perbedaan frekuensinya sangat kecil dan saling berinterferensi.

Jika dua gelombang bunyi yang frekuensinya hampir sama, maka interferensinya (superposisi) kedua gelombang akan menghasilkan gelombang lain yang amplitudonya maksimal dan minimal yang berurutan berubah terhadap waktu (periodik).

Secara matematis jumlah layangan tiap detik dinyatakan :

fl = f1 – f2

fl = frekuensi pelayangan (Hz)

f1 = frekuensi bunyi pertama (Hz)

f2 = frekuensi bunyi kedua (Hz)